Nyaah Ka Indung: Dari Pinggir Desa, Harapan Itu Tumbuh

Nyaah Ka Indung: Program Peduli Ibu di Cianjur yang Patut Dicontoh




Program Nyaah Ka Indung di Cianjur mengubah hidup para ibu desa lewat layanan kesehatan, pelatihan usaha, dan pendampingan sosial.

Kisah yang Dimulai dari Dapur Kecil

Di sebuah kampung kecil di selatan Cianjur, pagi dimulai lebih awal dari matahari. Dini, seorang ibu tiga anak, sudah sibuk menjerang air dan menyiapkan sarapan. Suaminya kerja serabutan. Ekonomi rumah tangga pas-pasan. Dulu, Dini merasa hidup hanya soal bertahan — sampai sebuah program datang ke desanya dan mengubah cara ia melihat dirinya sendiri. Program itu bernama Nyaah Ka Indung.

Ketika Ibu Tidak Lagi Sendiri

Waktu itu, Dini sedang hamil anak ketiganya. Tapi karena jarak ke puskesmas jauh, dia lebih sering “pasrah”. Pemeriksaan kehamilan seadanya. Saat program Nyaah Ka Indung masuk ke kampungnya, semuanya berubah: posyandu aktif kembali, ada bidan yang rutin datang, bahkan edukasi soal gizi dan kesehatan ibu hamil pun mulai digencarkan. “Waktu anak pertama, saya nggak tahu apa-apa. Sekarang, saya ngerti pentingnya periksa rutin, makan bergizi, nyusuin eksklusif,” kata Dini sambil menggendong bayinya yang kini sehat dan ceria.

Bukan Sekadar Bantuan, Tapi Kesempatan

Selain kesehatan, program ini juga membuka pelatihan keterampilan untuk ibu rumah tangga: membuat keripik pisang, sabun cuci, dan keterampilan lain yang bisa jadi usaha rumahan. Dini ikut. Awalnya ragu, tapi setelah beberapa bulan, dia dan ibu-ibu lain membentuk kelompok usaha. Hasil penjualannya memang belum besar, tapi cukup untuk beli beras tanpa harus selalu menunggu uang dari suami. “Rasanya beda, bisa punya uang sendiri. Bukan soal besar kecilnya, tapi soal percaya diri,” ucap Dini.

Dari Ibu untuk Ibu

Program ini dijalankan bareng-bareng: kader PKK, tenaga kesehatan, tokoh agama, hingga aparat desa. Semua turun tangan. Dini bahkan sekarang jadi kader juga. Dia keliling rumah ke rumah, ngajak ibu-ibu lain buat ikut aktif di posyandu atau pelatihan. “Kadang yang dibutuhkan bukan cuma bantuan. Tapi didengar. Dihargai. Dikuatkan.”

Harapan yang Menular

Dampak Nyaah Ka Indung makin luas. Di kampung sebelah, ibu-ibu mulai rutin berkumpul tiap pekan. Di dusun lain, ada kelompok usaha yang sudah menjual produknya ke pasar kota. Apa yang awalnya hanya kegiatan desa, sekarang jadi gerakan bersama. Dari tangan-tangan ibu yang dulu sunyi, sekarang tumbuh suara dan langkah perubahan.

 

Cianjur Bisa, Daerah Lain Harusnya Bisa Juga

Program seperti ini mestinya nggak berhenti di Cianjur. Modelnya bisa ditiru, dimodifikasi, dan dijadikan inspirasi nasional. Karena kalau kita serius membangun negeri, kita harus mulai dari pondasinya: para ibu. Ibu yang sehat, berdaya, dan dihargai, adalah kunci lahirnya generasi yang kuat.
“Dulu saya cuma ibu rumah tangga. Sekarang saya ibu rumah tangga yang punya suara.”
Kirim Info Daerahmu... Kirim info terbaru wilayahmu
Ada kabar apa lur??
klik disini...